• 0215375647
  • 081311646660
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Mata Air (Peringatan Hari Guru)

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Tak ada orang yang bisa berjalan tepat ketika ia lahir di dunia. Tak ada orang yang bisa berlari dengan satu kaki tanpa bantuan apa pun. Pun, hal-nya tak akan ada jaya tanpa usaha.
Dalam hidup, kita mengenal orang tua, kita mengenal saudara, kita mengenal kawan, kita mengenal lawan, dan kita mengenal guru. Guru. Orang yang terkadang kita pertanyakan keberadaannya.
“Guru itu siapa sampai memberi kita banyak materi yang membuat kita pusing?”
“Memang kita tidak bisa hidup tanpa guru?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tampak seperti pertanyaan setiap murid yang masih duduk di bangku sekolah. Pertanyaan-pertanyaan yang meluapkan perasaan kesal akibat tugas yang menumpuk. Pertanyaan yang hanya akan ditanyakan selama 12 tahun mereka sekolah. Tanpa memikirkan apa dampak dari pertanyaan itu di masa depan.
Lalu, di sisi lain, ada yang mempertanyakan
“Apa aku sudah cukup ber-terima kasih kepada guru-guruku?”
“Apa aku bisa memanfaatkan ilmu yang kudapat dari mereka?”
Jelas saja pertanyaan-pertanyaan tersebut berasal dari sudut pandang yang berbeda dengan yang sebelumnya. Tak ada yang melarang, tak ada yang mengekang, dan tak ada yang memberangi-mu hanya karena pertanyaan-pertanyaan itu. Setiap orang berhak bertanya. Tak ada yang salah ataupun benar. Karena setiap pertanyaan yang dilontarkan terhadap guru, hanya akan membuktikan seberapa besar jasa guru untuk kita semua.
Guru itu siapa? Guru itu mata air bagi kita. Oh iya? Mengapa? Guru adalah mata air, dan air adalah ilmunya. Air itu kuat, bahkan sekeras-sekerasnya batu pun dapat hancur dengan tetesan air. Diubah dalam bentuk apa pun, tak akan pernah hilang air itu. Begitu hal nya dengan ilmu, begitu kuat dan lembut disaat bersamaan. Begini cara mudahnya, air bermanfaat untuk kehidupan manusia dalam segi apa pun, pun sama dengan ilmu. Setelah memahami seberapa penting ilmu dalam kehidupan kita, lalu bagaimana kita masih mempertanyakan seberapa pentingnya eksistensi guru yang jelas-jelas telah menjadi mata air kita?
Kita tidak bisa hidup tanpa guru? Jawaban mudah. Bisa, tentu saja. Tapi coba dipertanyakan lagi, apa kita mau hidup tanpa tujuan di dunia ini? Ilmu itu dicari untuk mendapatkan tujuan hidup kita di dunia maupun di akhirat. Sungguh, jika kita ingin hidup tanpa tujuan, bukan orang lain yang merugi, tapi kita.
Sungguh, 1000 lembar kertas pun tak akan bisa menjabarkan jasa-jasa guru bagi kita. Mereka rela membakar diri mereka sendiri untuk menerangi jalan kita ke masa depan. Guru-guruku, tak pernah mereka mengatakan “muridku bodoh” tiap kali kami tak mengerti, mereka hanya akan bilang “muridku belum bisa, ayo coba lagi”.
Jauh dalam hati kecil kita, ada pengakuan sedari dini bahwa kita semua mencintai guru-guru kita. Semua kekesalan yang pernah ter curahkan hannyalah goresan semu dalam perjalanan kita mencari ilmu. Nyatanya, tak ada orang yang sukses tanpa bimbingan guru.
Pernahkah ada yang melihat guru kita menangis bahagia dan bangga saat kita kembali datang ke sekolah dengan membawa pernyataan “Bu, Pak, terima kasih. Kini saya telah mencapai mimpi saya.” Atau bahkan jika kita kembali dengan membawa pernyataan “Bu, Pak, terima kasih atas ilmunya, maaf saya belum bisa menghasilkan ilmu yang telah bapak dan ibu guru berikan kepada saya.” Kemudian dalam diam, mereka menangis, dan berdoa kepada Allah, Sang Maha Pencipta, memohon agar semua muridnya bisa menggapai mimpi mereka.
Sungguh, mereka itulah orang yang tak akan pernah sia-sia hidupnya. Mereka itulah yang akan menghuni surga Allah. Ilmu yang terus menerus mengalir tanpa henti, ilmu yang datangnya dari mereka. Menggandeng tangan, Membuka pikiran, Menyentuh hati, Membentuk masa depan, Seorang Guru berpengaruh selamanya, Mereka tidak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir.
Mimpi kita berawal dari seorang guru yang mempercayai kita, yang menarik, mendorong, membawa kita ke dataran tinggi, kadang ia menusuk kita dengan tombak tajam bernama, “Kebenaran.” Namun keinginannya hanyalah supaya jalan kita terus disinari oleh keberkahan dari ilmu-ilmunya.
Untuk semua bapak dan ibu guru yang sangat saya cintai, terima kasih, 10 tahun dari sekarang, saya akan kembali datang kesini, membawa pernyataan yang akan saya usahakan hasilnya baik. Kemarin, hari ini dan esok, saya tak akan melupakan sumber mata air yang saya dapatkan sepanjang hidup saya, yaitu kalian, para pahlawan tanpa tanda jasa.

Oleh : Amanda Kayla Riyadi Putri [XI MIPA]


© 2020 SMA Islam Al Azhar BSD